Breaking News

12 Kali Sidang Skripsi Batal, Mahasiswi Undana Dirawat Intensif, Rektor Janji Kawal hingga Lulus

 

Rektor Undana, Prof. Jefri Bale bersama jajaran Universitas menjenguk mahasiswi FKM Undana yang dirawat di Rumah Sakit Wirasakti Kupang. Mahasiswi itu mengalami depresi, diduga karena 12 kali batal sidang skripsi ( by memorandum co.id) 


KUPANG
– Kondisi mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Nusa Cendana (Undana), JST, yang sempat mengalami depresi dan serangan panik usai berulang kali gagal menjalani sidang skripsi, mulai menunjukkan perkembangan positif. Meski demikian, perempuan tersebut masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Wirasakti Kupang karena trauma yang dialaminya belum sepenuhnya pulih.

Kasus yang menimpa JST menjadi perhatian publik setelah video dirinya menangis histeris dan mengalami gangguan emosional beredar luas di media sosial. Peristiwa tersebut memicu beragam respons masyarakat, termasuk desakan agar perguruan tinggi memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental mahasiswa.

JST diketahui telah dirawat sejak Rabu (29/7/2026). Selama menjalani perawatan, tim medis terus memantau kondisi fisik maupun psikologisnya. Meski sudah mulai dapat mengonsumsi makanan, ia masih mengalami pusing, muntah, dan belum mampu bergerak secara leluasa akibat dampak trauma yang masih dirasakan.

Wali JST, Marini Djelil, mengatakan perkembangan kesehatan mahasiswi tersebut perlahan membaik. Namun, menurutnya, pembahasan mengenai persoalan akademik belum memungkinkan dilakukan karena fokus utama saat ini adalah proses pemulihan.

"Hari ini dia sudah bisa makan, tetapi saat duduk masih sedikit pusing, belum bisa menoleh ke kiri dan kanan, dan tadi masih muntah. Jadi memang kondisinya belum memungkinkan untuk membahas persoalan yang sedang dialaminya," ujarnya.

Untuk menjaga kestabilan emosional JST, keluarga juga membatasi jumlah pengunjung yang datang ke rumah sakit. Hanya beberapa kerabat dekat dan perwakilan kampus yang diizinkan menemui korban.

Marini menjelaskan bahwa trauma yang dialami JST masih cukup berat sehingga seluruh pihak diminta memberikan ruang bagi proses penyembuhan.

"Saya membatasi orang-orang yang datang, termasuk keluarga dan teman-temannya. Dari pihak kampus juga hanya beberapa orang yang saya izinkan masuk. Walaupun sekarang terlihat sudah bisa makan, kejadian ini masih sangat membekas. Untuk sementara dia masih dalam penanganan dokter saraf," katanya.

Di tengah masa pemulihan tersebut, Rektor Universitas Nusa Cendana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, bersama jajaran pimpinan universitas mendatangi RS Wirasakti Kupang pada Sabtu (1/8/2026). Kunjungan itu dilakukan sebagai bentuk dukungan moral sekaligus memastikan kampus bertanggung jawab mengawal penyelesaian studi JST setelah kesehatannya pulih.

Menurut Prof. Jefri, pihak universitas memprioritaskan kesehatan mahasiswi tersebut sebelum melanjutkan seluruh proses akademiknya.

"Kami datang untuk memberikan dukungan dan memastikan bahwa universitas berkomitmen menyelesaikan persoalan yang dihadapi mahasiswa. Saat ini fokus utama adalah pemulihan kesehatannya," ujarnya.

Ia menegaskan, hak akademik JST tetap akan dipenuhi sesuai ketentuan. Universitas berjanji mengawal proses penyelesaian studinya hingga tuntas sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang.

"Kami memastikan seluruh hak akademiknya akan dipenuhi. Setelah kondisinya pulih, proses penyelesaian studinya akan dikawal dengan mekanisme yang lebih baik sehingga tidak lagi terjadi persoalan seperti sebelumnya," tegasnya.

Prof. Jefri juga mengungkapkan bahwa perhatian terhadap kasus tersebut datang langsung dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Menteri bahkan melakukan panggilan video kepada JST untuk memberikan semangat sekaligus memastikan pemerintah mendukung penyelesaian studinya.

"Pak Menteri memberikan motivasi dan memastikan kementerian akan mendukung proses penyelesaian studi hingga yang bersangkutan dapat menyelesaikan pendidikannya," ungkapnya.

Selain rektor, kunjungan ke rumah sakit juga dihadiri Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Ketua Program Studi, sejumlah dosen, serta mahasiswa sebagai bentuk solidaritas kepada JST.

Pihak universitas menyatakan komunikasi dengan dosen penguji dan jajaran fakultas telah dilakukan sejak persoalan tersebut mencuat. Evaluasi terhadap proses akademik juga akan dilakukan agar pelayanan kepada mahasiswa semakin baik.

Sementara itu, Marini menyampaikan apresiasi atas perhatian yang diberikan pihak kampus maupun Kementerian Pendidikan Tinggi. Ia berharap dukungan tersebut mampu menjadi penyemangat bagi JST untuk bangkit dan menyelesaikan pendidikan hingga meraih gelar sarjana.

Kasus ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa, terutama ketika menghadapi tekanan akademik. Banyak pihak berharap evaluasi terhadap sistem pendampingan mahasiswa dapat dilakukan sehingga persoalan serupa tidak kembali terjadi di lingkungan perguruan tinggi.(red/lis)

© Copyright 2022 - detiknews
https://www.detiknews.web.id/p/box-redaksi.html