Breaking News

Listrik Padam Bergilir di Sejumlah Wilayah Jawa, PLN Akhirnya Buka Suara Soal Penyebabnya

  

Ilustrasi anak tengah belajar saat mati lampu. photo by Liptan6.com


JAKARTA- Pemadaman listrik bergilir yang dalam beberapa pekan terakhir terjadi di berbagai wilayah Pulau Jawa mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Gangguan pasokan listrik yang dilaporkan sejak 8 Juni 2026 sempat berdampak pada sejumlah daerah, antara lain Bogor, Tangerang Raya, Bekasi, Tangerang Selatan, Semarang, Cirebon, Bantul, Yogyakarta, Banten, hingga beberapa wilayah di Jawa Timur.

PT PLN (Persero) menjelaskan bahwa kebijakan pemadaman bergilir dilakukan sebagai langkah darurat untuk menjaga kestabilan sistem kelistrikan Jawa. Langkah tersebut diambil setelah dua unit pembangkit listrik berkapasitas besar mengalami gangguan teknis dan tidak dapat beroperasi sementara, sehingga mengurangi kemampuan pasokan listrik ke jaringan utama.

Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN, Gregorius Adi Trianto, menegaskan bahwa pengaturan beban yang dilakukan perusahaan bersifat sementara. Menurutnya, kondisi tersebut merupakan konsekuensi dari kendala operasional yang terjadi pada sejumlah pembangkit sehingga PLN harus menyesuaikan distribusi daya agar sistem tetap aman dan tidak mengalami gangguan yang lebih luas.

PLN saat ini terus mempercepat proses pemulihan dengan mengoptimalkan produksi listrik dari pembangkit lain yang masih beroperasi. Selain itu, perusahaan juga melakukan penyesuaian pola operasi sistem kelistrikan guna menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik masyarakat.

"Kami terus melakukan berbagai upaya percepatan pemulihan dengan memaksimalkan pasokan dari pembangkit yang tersedia serta mengatur operasi sistem agar dampak kepada pelanggan dapat ditekan seminimal mungkin," ujar Gregorius.

Pemerintah Pastikan Bukan Karena Krisis Batu Bara

Menanggapi berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemadaman listrik yang terjadi tidak disebabkan oleh kekurangan pasokan batu bara.

Menurut Bahlil, pemerintah telah memastikan ketersediaan batu bara bagi pembangkit listrik nasional melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Bahkan, volume batu bara yang dialokasikan kepada sektor kelistrikan disebut melebihi kebutuhan PLN secara nasional.

Ia menjelaskan bahwa persoalan yang terjadi lebih berkaitan dengan aspek teknis operasional dan distribusi logistik menuju pembangkit listrik. Proses pengangkutan dan penyaluran bahan bakar hingga tiba di lokasi pembangkit menjadi bagian dari pengelolaan internal PLN.

Bahlil juga mengungkapkan telah berkomunikasi langsung dengan Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, untuk memastikan langkah mitigasi dilakukan secara cepat dan terukur. Pemerintah meminta PLN melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Satu Pembangkit Besar Kembali Beroperasi

Kabar positif datang dari proses pemulihan sistem kelistrikan Jawa. PLN mengumumkan bahwa salah satu pembangkit listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) yang sebelumnya mengalami gangguan telah berhasil dipulihkan dan kembali tersinkronisasi dengan jaringan listrik Jawa sejak 21 Juni 2026.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengatakan beroperasinya kembali pembangkit tersebut memberikan tambahan daya yang signifikan bagi sistem kelistrikan Jawa. Kondisi ini membantu mengurangi frekuensi dan cakupan pemadaman bergilir yang sempat terjadi dalam sepekan terakhir.

Selain pemulihan pembangkit, distribusi batu bara dengan spesifikasi yang sesuai kebutuhan operasional pembangkit juga mulai kembali normal. Perbaikan pasokan energi primer tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat penguatan sistem kelistrikan nasional.

Darmawan menegaskan PLN saat ini bekerja penuh selama 24 jam setiap hari untuk memantau kondisi sistem, mengidentifikasi potensi risiko, serta memastikan keandalan pasokan listrik tetap terjaga.

"Kami melakukan monitoring secara intensif dan memetakan seluruh langkah yang diperlukan agar sistem kelistrikan Jawa semakin andal dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat," ujarnya.

Sebagai bentuk tanggung jawab kepada pelanggan, PLN juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat pemadaman bergilir selama beberapa waktu terakhir.

Perlu Solusi Jangka Panjang

Di tengah proses pemulihan, sejumlah pakar energi menilai gangguan yang terjadi harus menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan pasokan energi bagi pembangkit listrik nasional.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M. Kholid Syeirazi, mengusulkan agar PLN mulai berinvestasi dalam pembangunan fasilitas pencampuran batu bara atau blending facility. Menurutnya, fasilitas tersebut penting mengingat sebagian besar produksi batu bara Indonesia memiliki nilai kalori rendah, sementara banyak pembangkit dirancang menggunakan batu bara berkalori menengah agar dapat beroperasi secara optimal.

Melalui fasilitas pencampuran, batu bara berkualitas tinggi dan rendah dapat dikombinasikan untuk menghasilkan spesifikasi bahan bakar yang sesuai kebutuhan berbagai jenis pembangkit, termasuk pembangkit ultra super critical (USC) dan pembangkit milik perusahaan listrik swasta.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, mendukung rencana pemerintah membentuk tim khusus untuk mengawasi pengadaan batu bara PLN. Menurutnya, langkah tersebut dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam penentuan pemasok maupun harga batu bara.

Ia menilai tim tersebut perlu memastikan pelaksanaan kewajiban DMO berjalan efektif, memperketat pengawasan rantai pasok dari tambang hingga pembangkit, serta menjamin ketersediaan stok batu bara dalam jangka panjang.

Pelajaran Penting bagi Ketahanan Energi Nasional

Peristiwa pemadaman bergilir yang terjadi di Pulau Jawa menunjukkan bahwa keandalan sistem kelistrikan tidak hanya bergantung pada kapasitas pembangkit, tetapi juga pada kualitas tata kelola rantai pasok energi primer, kesiapan infrastruktur distribusi, serta efektivitas manajemen operasional.

Meski kondisi sistem kini mulai membaik, para pengamat menilai evaluasi menyeluruh tetap diperlukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Diversifikasi sumber energi, peningkatan cadangan operasional, modernisasi pembangkit, serta penguatan sistem pengawasan pasokan energi menjadi langkah strategis yang perlu dipercepat agar gangguan serupa tidak kembali terjadi di masa depan.

Dengan mulai pulihnya sejumlah pembangkit dan membaiknya pasokan energi primer, PLN optimistis pasokan listrik di Pulau Jawa akan kembali normal secara bertahap. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa keandalan listrik nasional memerlukan pengelolaan yang terintegrasi, mulai dari sumber energi hingga distribusi ke pelanggan akhir. (red/lisa)

© Copyright 2022 - detiknews
https://www.detiknews.web.id/p/box-redaksi.html